AUDIT YANG DILAKUKAN OLEH AKUNTAN DAN AUDIT KEUANGAN

                                                        BAB II

             AUDIT YANG DILAKUKAN AKUNTAN  DAN AUDIT KEUANGAN.

 Pendahuluan

Audit yang dilakukan akuntan  independen cukup banyak, dan dapat dikelompokkan  sebagai berikut :

  1. Dilihat dari tujuannya, audit dapat dikelompokkan audit dalam rangka menilai ketaatan, dalam rangka memberikan rekomendasi dan quality insurance
  2. Dilihat dari scope audit, dapat dikelompokkan audit yang bersifat umum seperti financial audit, dan special audit (audit khusus, investigasi) misalnya  audit terhadap pengadaan barang
  3. Dan masih ada lagi pengelompokan audit misalnya atas dasar siapa yang melakukan audit  (internal dan external audit),  kapan dilakukan audit dan lain-lain.

Dalam praktek audit yang sering dilakukan  akuntan  terutama  akuntan yang bekerja pada Aparat Pengawasan Pemerintah adalah ;

–   Audit financial atau keuangan

–   Audit  operasional atau  pengelolaan

–   Audit khusus atau investigasi

–   Audit dalam rangka permintaan bantuan  penyidik ( audit forensik)

Audit dalam rangka permintaan bantuan penyidik untuk sementara dinamakan audit forensic

1.  Audit Finasial atau Audit Keuangan

1.)  Pedoman Penyusunan Laporan  Keuangan Masa Lalu

Para akuntan yang termasuk generasi tua seperti penulis mungkin masih mengalami bahwa pendidikan akuntan  untuk mata pelaaran  pembukuan dan kontrol (audit), sekitar  tahun 1964 buku pelajarannya bersumber pada teori yang berasal dari negara Belanda. Maklum negara kita memang bekas jajahan Belanda.

Menurut penulis teori yang menyangkut akuntansi dan  barangkali juga hukum, teori yang berasal dari negara Belanda penuh filosofis yang hanya bisa ditafsirkan secara benar oleh orang yang jujur dan tidak mempunyai kepentingan pribadi . Sebagai contoh ketentuan dalam penyusunan laporan keuangan menurut   teori  dari Belanda :

“ Laporan keuangan disusun atas dasar adat kebiasaan pedagang yang baik “

Penafsiran adat kebiasaan pedagang yang baik sulit, mungkin penafsirannya bisa macam-macam tergantung kejujuran dan kepentingannya pribadi penyusun laporan keuangan.

Beruntung sekitar tahun 1967/1968 pelajaran akuntansi dan audit berubah mengacu pada teori GAAP Amerika,

Dalam  GAAP   ketentuan penyusunan laporan keuangan adalah sebagai berikut :

“ Laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip akuntasi yang berlaku umum”

Selanjutnya dijelaskan apa saja yang termasuk prinsip akuntansi yang berlaku umum, sehingga mudah dilaksanakan dan dapat memperkecil terhadap penyusunan laporan keuangan yang menyesatkan atau di mark up untuk tujuan tertentu.

Akuntanpun dalam melaksanakan audit sekarang sudah ada pedoman yang dikeluarkan Ikatan Akuntan Indonesia, sehingga dapat memperkecil terjadinya kesalahan dalam melakukan audit.

2.) Tujuan Audit Financial  dan  Pedoman Audit.

Tujuan financial audit adalah untuk memberikan pendapat atas kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Untuk finansial audit , audior perlu memperhatikan “skeptik profesional” yaitu tidak boleh menganggap auditee (orang yang diaudit) orang yang tidak jujur dan tidak boleh menganggap auditee tidak diragukan kejujurannya.

Pelaksanaan audit finansial termasuk relatif mudah karena :

  • Pedoman sistem akuntansi yang berlaku  umum dan untuk masing-masing kelompok entitas sudah ada, misalnya Sistem Akuntansi Perbankan, Pertambangan, Kehutanan dan lain-lain
  • Sudah ada pedoman yang dipakai untuk melakukan audit dan penyusunan Laporan audit yaitu Standart Auditng. Dalam pedoman juga diatur pendapat apa yang harus diberikan auditor terhadap laporan keuangan yang diaudit yang didasarkan pada hasil audit

Dari hasil audit akan menentukan pendapat yang diberikan. Pendapat akuntan merupakan bagian terpenting dari laporan akuntan. Apa yang harus dilakukan auditor dicamtumkan alinea tengah pendapat akuntan yaitu :

“Kami melasanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas salah saji materiil “

Hasil audit dan juga prosedur audit yang dilakukan auditor terhadap masing-masing perkiraan/account dituangkan dalam kertas kerja audit.

Apabila dikelak kemudian hari, misalnya terhadap suatu perusahaan diberikan pendapat wajar dalam semua hal yang material, ternyata ada kasus misalnya kasus korupsi maka yang diperiksa pertama adalah kertas kerja audit, untuk menilai apakah prosedur auditnya yang salah atau auditor kurang teliti

3.) Audit Keuangan Terhadap Laporan Keuangan Proyek.

Sebaiknya auditor  sebelum melakukan audit, memeriksa dahulu bagaimana cara obyek yang akan diaudit menyusun laporan keuangan. Sekitar tahun 1980  pernah seorang auditor melakukan  financial audit dulu istilahnya  general audit terhadap laporan keuangan cabang. Pembukuan di susun oleh Kantor Pusat dengan komputer,

Dokumen yang ada  pada obyek yang akan diaudit hanya buku kas yang disusun dengan komputer dan neraca akhir tahun sehingga sulit untuk diaudit . Agar  laporan keuangan  bisa diaudit, auditor  minta kepada Pemimpin Cabang minta   Pusat  mencetak buku besar  Sebulan kemudian buku bsar baru dikirim dari Pusat. Dengan adanya buku besar , dapat dilakukan audit.

Untuk Proyek Bantuan Bank Dunia laporan keuangan pada umumnya  disusun dalam bentuk PMR ( Proyect Management Report ) yang sebenarnya merupakan tata buku tunggal. Di samping audit tahunan,  akan dilakukan audit saat closing date.

Misalnya trnsaksi tiap tahun ribuan item, kegiatan misalya ada di 40 kabupten. Sebaiknya auditor menilai apa ya mungkin tanpa ada catatan lain untuk memudahkan merinci  penggunaan uang bank dari triwulan ke triwulan dan dari tahun pertama sampai tahun terkhir saat closing date. ( misalnya 8 tahun )

Auditor sebaiknya memeriksa bagaimana setiap triwulan  Proyek melakukan rekonsiliasi dengan Rekening Bank. Apakah  rekonsiliasi bank bertitik tolak dari transaki proyek, atau bertitik tolak dari transasi RK  Bank. Rekonsiliasi yang bertitik tolak dari transaksi Proyek kurang  dapat dipakai untuk pengendalian intern pengeluaran . Berbeda dengan rekonsiliasi yang  bertitik tolak dari pengeluaran Bank, maka  dapat diketahui penggunaan uang Bank ( uang Proyek ) tiap triwulan  apakah ada pengeluaran untuk proyek lain, apakah ada pengeluaran bank yang tidak masuk PMR dan akan memudahkan  penyiapan data pada waktu closing date,

Di samping itu perlu diungkapkan dalam laporan audit  tentang aliran keuangan khusus untuka dana bantuan Bank Dunia dari tahun ke tahun, sehingga  kalau ada kesalahan segera diketahui dan memudahkan closing  sehingga laporan audit tersebut berguna untuk  pengendalian keuangan proyek

4).  Pendapat Akuntan yang Berkaitan Dengan Masalah Hukum

Dari hasil audit terhadap perusahaan laporan keuangannya diberikan pendapat wajar dalam segala hal yang material namun ternyata pada audit berikutnya atau dikelak kemudian hari diketahui ada penyimpangan yang material.

Contoh kasusnya :

(1)  Kasus Manipulasi Transfer Uang Tahun 1974

Dari hasil audit terhadap laporan keuangan diberi pendapat wajar, namun pada periode berikutnya setelah dilakukan audit untuk tahun berikutnya di mana salah satu tim auditnya diganti, berdasarkan hasil audit ternyata dalam periode sebelumnya  dan sampai audit tahun berjalan  telah terjadi  penyimpangan  yang jumlahnya cukup material  dengan modus operandi bukti transfer uang ke Pusat dari  hasil   penjualan  yang dilampirkan dalam dokumen untuk diaudit, adalah tidak benar karena jumlahnya dimark up. Kesalahan prosedur audit yang dilakukan auditor terdahulu yaitu dalam audit terhadap transfer uang dengan memeriksa bukti transfer uang yang  sepertinya menggunakan blanko bank dan mesin ketik bank, sedang seharusnya menggunakan prosedur audit dengan konfirmasi apakah uang yang ditransfer telah diterima oleh pusat atau belum.

(2)  Kasus Pada Salah Satu  Perusahaan.

Pernah waktu diadakan pembahasan suatu kasus di Kejaksaan Tinggi salah satu Jaksa bertanya mengapa laporan audit sudah diberikan pendapat wajar namun ternyata masih terdapat kasus/ penyimpangan  yang di duga korupsi (barangkali Jaksa tersebut telah berkonsultasi dengan akuntan atau sudah mempelajari laporan audit). Tim yang melakukan audit menjawab karena audit dilakukan dengan sampling dan lain-lain. Jawaban tersebut tidak tepat, karena sampling yang tepat, kemungkinan besar akan dapat mengetahui adanya suatu transaksi yang diduga ada kecurangan. Audit pada dasarnya mengandalkan pengendalian intern, namun  bagaimanapun efektifnya rancangan pengendalian intern tidak ada artinya kalau dalam penerapannya terjadi kolusi, sedang kasus yang dibahas tindak pidana korupsi tersebut timbul akibat kolusi. Prosedur audit apapun sulit untuk mendeteksi terjadinya kecurangan apabila dilakukan dengan kolusi.

(3)  Kasus Kredit Macet Non Bisnis

Pada waktu penulis diminta penyidik untuk membuat terang kasus kredit macet non bisnis, di mana pemberian kredit tersebut didasarkan pada Laporan dan Proposal yang disusun Kantor Akuntan, mengapa yang melakukan audit tidak bisa dijerat dengan Pasal 55  ayat (1) KUHP (melakukan, menyuruh melakukan, atau turut melakukan).

Disini pentingnya auditor yang melakukan audit forensik mengerti sedikit  tentang hukum, khususnya hukum  yang berkaitan dengan korupsi karena dalam menetapkan tersangka kadang- kadang penyidik berkonsultasi dengan auditor.

Penulis menjelaskan bahwa jumlah kredit yang diberikan, perhitungannya tidak mengacu pada  laporan  dan proposal yang disusun oleh kantor akuntan namun dihitung dari data lain agar dapat diberikan kredit yang lebih besar, dengan demikian yang melakukan audit tidak bisa dijerat dengan pasal 55 ayat (1) KUHP,

(4) Saldo bilyet yang tidak benar.

Pernah seorang auditor melakukan audit di Kantor Dinas tingkat Propinsi yang anggaran dari Pusat pada waktu itu cukup besar. Pada hari pertama Kepala Dinas didampingi Bendahara menyerahkan hasil audit tahun lalu yang tidak ada masalah apa-apa.Namun karena auditor tersebut sering menangani kasus korupsi, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Namun  dalam audit , auditor bisa-biasa saja seperti tidak ada masalah, auditor  minta Rekening Koran Bank untuk satu tahun, termasuk bulan di mana auditor terdahulu melakukan audit.Bendahara tidak sadar, bahwa auditor sebenarnya  ingin mengetahui kebenaran saldo biyet yang diminta auditor terdahulu.

Ternyata betul ada manipulasi yang modusnya sebagai berikut :

Pada waktu diaudit yang lalu misalnya saldo uang bank menurut  Buku Bank Bendahara sebesar   Rp. 85,796.395.00 ( jumlah tersebut pada tahun 1987 cukup besar ). Sebetulnya saldo RK Bank pada tanggal waktu diadakan opname hanya sebesar Rp, 1,796.395.00. Pada hari itu berdasarkan transaksi dalam RK bank pada pagi hari ada penyetoran Rp. 84.000.000.- dan sesudahnya pada tanggal yang sama ada penarikan sebesar Rp. 84.000.000,- sehingga pada akhir hari pertanggal tersebut saldo bank kembali menjadi Rp. 1,796.395.-

Ternyata uang tersebut diputar pada Koperasi yang ada di Dinas tersebut.

.

Komentar. 

Sekitar tahun 1964, penyusunan laporan keuangan maupun kontrole didasarkan teori dari Belanda, yang hanya bisa ditafsirkan secara benar oleh orang yang jujur dan tidak ada kepentingan pribadi atau kepentingan lain seperti contohnya penyusunan laporan keuangan ada ketentuan :  Laporan keuangan disusun atas dasar adat kebiasaan pedagang yang baik “

Orang yang melakukan korupsi Rp.10 juta., Rp. 100.juta, Rp. 1 millard, dan Rp. 1 trilliun hukuman penjaranya sama maksimum 20 tahun atau seumur hidupi. Dan sudah ada berita dari electronic , ada Putusan Pengadilan yang pembayaran uang pengganti tidak sebesar yang dikorupsi.

Kalau di Negara lain mungkin orang yang korupsi Rp. 1 trilliun dihukum 100 tahun.

Mengapa kita tidak mengikuti hukum seperti di Amerika , seperti  contohnya dalam penyusunan laporan keuangan dan audit. ( ilmu akuntansi )  dari Belanda  terlalu filosofis

Dalam melakukan audit, yang paling penting adalah akuntun telah menetapkan prosedur audit yang benar. Kalau audit terhadap pengiriman uang atau barang  baru dinyatakan benar bila sudah ada pemberitahuan dari yang menerima, yang menyatakan uang atau barang yang dikrim telah diterima.

Dalam oname saldo bank jangan minta saldo bilyet saja tapi juga harus minta salinan RK Bank.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: